Porto, Portugal – Di balik kemewahan industri hiburan global, Dua Lipa tengah membangun narasi yang jauh lebih dalam. Penyanyi berusia 30 tahun ini secara resmi meresmikan Manifesto Library, sebuah koleksi permanen di Livraria Lello yang menghimpun sekitar 100 buku yang pernah dilarang, disensor, ditarik dari peredaran, atau dibatasi di berbagai negara.
Proyek kolaborasi antara Service95 Book Club milik Dua Lipa dan Livraria Lello ini diluncurkan dalam rangka festival literasi BABELL – City of Books. Namun, di balik peresmian yang terlihat glamor tersebut, terdapat pertanyaan yang lebih besar: mengapa seorang megabintang pop memilih untuk menempatkan dirinya di garis depan perlawanan terhadap sensor buku?
Menurut siaran pers resmi yang dirilis Livraria Lello dan Service95, Manifesto Library sengaja menyajikan karya-karya yang mengusung isu-isu sensitif — mulai dari ras, seksualitas, identitas, kritik kekuasaan, hingga tantangan terhadap otoritas. Beberapa penulisnya pernah menghadapi ancaman pembunuhan, pengasingan, hingga fatwa.
Koleksi ini dikurasi berdasarkan empat tema utama: Power (Kekuasaan), Control (Kontrol), Voice (Suara), dan Memory (Memori). Di antaranya terdapat The Handmaid’s TaleFelon
Dalam pernyataannya, Dua Lipa menggambarkan Manifesto Library sebagai “ruang yang mengajak orang untuk lebih dekat dengan dunia lewat membaca sekaligus mendorong mereka untuk berpikir kritis.” Ia juga menyebut proyek ini sebagai bentuk penghormatan bagi buku-buku yang pernah dihilangkan dan para penulis pemberani.
Namun, langkah ini memunculkan sorotan baru terhadap peran selebritas dalam isu kebudayaan. Dengan jutaan pengikut di media sosial, Dua Lipa menggunakan platform dan pengaruhnya untuk membawa narasi kebebasan berekspresi ke ranah fisik — sebuah perpustakaan permanen di salah satu situs paling ikonik di Eropa.
Livraria Lello sendiri bukan sekadar latar belakang biasa. Sebagai salah satu toko buku tertua dan tercantik di dunia, tempat ini menyimpan sejarah panjang perlawanan intelektual. Dengan menempatkan Manifesto Library di sini, Dua Lipa seolah ingin menyatukan warisan literasi klasik dengan perjuangan kontemporer melawan pembungkaman di era digital.
Proyek ini hadir di saat berbagai negara masih kerap melakukan sensor terhadap buku dan karya seni. Dari larangan buku di sekolah-sekolah di beberapa negara Barat hingga pembatasan ketat di negara-negara dengan rezim otoriter, Manifesto Library seolah menjadi peringatan bahwa upaya membungkam pemikiran kritis masih menjadi ancaman nyata di abad ke-21.
Apakah ini sekadar proyek citra bagi Dua Lipa, ataukah bagian dari komitmen jangka panjang Service95 Book Club yang selama ini aktif mendorong literasi dan diskusi terbuka? Hanya waktu yang akan menjawab seberapa jauh dampak Manifesto Library terhadap generasi pembaca muda yang semakin terpapar algoritma daripada buku fisik.
Satu hal yang pasti: di rak-rak kayu Livraria Lello yang megah, kini tersimpan suara-suara yang pernah ingin dibungkam — dan Dua Lipa memastikan suara itu tetap bergema.