Inspiratif

Hanya dengan Iuran Rp2.000 per Hari, 165 Rumah Tidak Layak Huni di Yogyakarta Berubah Total

Yogyakarta – Sebuah kisah inspiratif dan membanggakan datang dari bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong. Melalui semangat gotong royong dan disiplin kolektif, s...
Devi Sry Atmaja
Devi Sry Atmaja
24 Juni 2026 · 16:13 WIB · 13 Views
Hanya dengan Iuran Rp2.000 per Hari, 165 Rumah Tidak Layak Huni di Yogyakarta Berubah Total

Foto: Instagram @paguyuban.kalijawi


Yogyakarta – Sebuah kisah inspiratif dan membanggakan datang dari bantaran Sungai Winongo dan Gajahwong. Melalui semangat gotong royong dan disiplin kolektif, sekelompok ibu-ibu berhasil merenovasi 165 rumah yang sebelumnya tidak layak huni hanya dengan iuran mandiri Rp2.000 per hari. Inisiatif ini digerakkan oleh Paguyuban Kalijawi, komunitas yang beranggotakan warga dari 14 kampung di kawasan tersebut. Dalam waktu sekitar 20 bulan, ratusan keluarga kini dapat menikmati rumah yang lebih layak, aman, dan nyaman.

Program ini dijalankan sepenuhnya melalui sistem tabungan dan iuran harian yang dikelola langsung oleh warga. Para anggota dibagi ke dalam kelompok-kelompok kecil di setiap kampung. Selain rutin menabung, mereka juga mengikuti berbagai pelatihan, mulai dari pemetaan kondisi rumah, penyusunan rencana dan anggaran renovasi, hingga penataan lingkungan permukiman. Seluruh proses didampingi oleh Yayasan Arkom Indonesia.

Inisiator Paguyuban Kalijawi, Ainun Murwani, menyampaikan bahwa manfaat program ini tidak hanya terlihat dari perubahan fisik rumah, tetapi juga pada peningkatan kapasitas dan kepercayaan diri warga.

“Efeknya sampai ke peningkatan kepercayaan diri para anggota, yang kini kerap jadi fasilitator dan berbicara dalam berbagai forum masyarakat,” ujar Ainun.

Keberhasilan Paguyuban Kalijawi membuktikan bahwa perubahan besar tidak selalu membutuhkan dana besar dari pemerintah atau pihak luar. Dengan modal kesadaran bersama, disiplin menabung, dan semangat kolektif, warga mampu mengubah nasib permukiman mereka sendiri.

Program ini juga menjadi contoh nyata pemberdayaan perempuan di tingkat akar rumput. Para ibu-ibu yang terlibat tidak hanya berhasil memperbaiki rumah, tetapi juga mengembangkan kemampuan leadership, perencanaan, dan advokasi.

Kisah ini diharapkan dapat menginspirasi komunitas lain di berbagai daerah untuk melakukan hal serupa. Bahwa perubahan lingkungan dan kesejahteraan masyarakat bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara bersama-sama.

Selamat dan apresiasi tinggi untuk Paguyuban Kalijawi serta seluruh warga yang terlibat. Kalian telah membuktikan bahwa kekuatan perubahan yang sesungguhnya ada di tangan masyarakat sendiri.