Medan – Di tengah upaya pemerintah menjalankan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), muncul cerita inspiratif dari Sumatera Utara. Tujuh siswa MAN 1 Medan berhasil mengubah “masalah” menjadi peluang emas. Mereka meraih medali emas di Japan Design Idea and Invention Expo (JDIIE) 2026 di Osaka, Jepang, berkat inovasi bernama GREEN yang memanfaatkan limbah kulit buah dari program MBG menjadi bata dan genteng ramah lingkungan.
Inovasi ini bukan sekadar karya siswa biasa. GREEN menunjukkan bagaimana pendidikan dapat menjadi jembatan antara program pemerintah dengan solusi lingkungan yang nyata. Limbah kulit buah yang selama ini berpotensi menimbulkan masalah pencemaran kini diolah menjadi material bangunan yang ringan, kuat, dan ramah lingkungan.
Para juri internasional terkesan dengan pendekatan sirkular economy yang diterapkan tim MAN 1 Medan. Inovasi mereka dinilai unggul karena mampu mengatasi dua isu sekaligus: pengelolaan limbah organik dan penyediaan material konstruksi berkelanjutan dengan biaya terjangkau.
Selama pelaksanaan MBG, volume limbah kulit buah melonjak drastis di berbagai daerah. Alih-alih menjadi beban lingkungan, siswa MAN 1 Medan melihatnya sebagai bahan baku berharga. Melalui riset dan eksperimen yang dilakukan di sekolah, mereka berhasil menciptakan formula komposit yang menghasilkan bata dan genteng berkualitas.
Keunggulan GREEN terletak pada:
Prestasi ini membuktikan bahwa siswa madrasah tidak hanya unggul dalam bidang agama dan akademik, tetapi juga mampu berkontribusi pada isu global seperti perubahan iklim dan ekonomi hijau.
Kepala MAN 1 Medan berharap prestasi ini menjadi katalisator bagi sekolah-sekolah lain untuk mengintegrasikan pembelajaran berbasis proyek yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Inovasi GREEN juga berpotensi direplikasi di berbagai daerah yang menjalankan program MBG, sehingga menciptakan model pengelolaan limbah yang terintegrasi.
Di tengah sorotan terhadap tantangan pelaksanaan MBG, kisah siswa MAN 1 Medan memberikan perspektif positif. Program besar pemerintah tidak hanya tentang distribusi makanan, tetapi juga dapat melahirkan inovasi-inovasi yang mendukung pembangunan berkelanjutan.
Prestasi di Osaka ini menjadi bukti nyata bahwa investasi pada pendidikan sains, teknologi, dan kreativitas mampu melahirkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga solutif dan peduli lingkungan.