Inspiratif

Pepaya California yang Sebenarnya Asli Indonesia: Kisah Pilu Ilmuwan di Balik Rebranding

Jakarta – Di balik popularitas pepaya California yang manis dan laris manis di pasaran, tersimpan kisah ironis sekaligus inspiratif tentang bagaimana inovasi lo...
Devi Sry Atmaja
Devi Sry Atmaja
01 Juli 2026 · 15:15 WIB · 15 Views
Pepaya California yang Sebenarnya Asli Indonesia: Kisah Pilu Ilmuwan di Balik Rebranding

Foto: tirto.id/Tino


Jakarta – Di balik popularitas pepaya California yang manis dan laris manis di pasaran, tersimpan kisah ironis sekaligus inspiratif tentang bagaimana inovasi lokal Indonesia harus “bersembunyi” di balik nama asing demi diterima pasar.

Semua berawal dari tangan dingin Prof. Sriani Sujiprihati, seorang pemulia tanaman yang mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk menciptakan varietas pepaya unggul bernama Callina. Melalui riset bertahun-tahun, ia berhasil menghasilkan buah pepaya yang unggul dalam rasa, ketahanan terhadap penyakit, produktivitas, dan adaptasi dengan kondisi lahan di Indonesia.

Namun, ketika tiba saatnya dipasarkan secara luas, nama “Callina” dianggap kurang menarik. Varietas ciptaan anak bangsa ini pun diganti menjadi Pepaya California. Ironisnya, nama yang terdengar “import” tersebut justru membuat buah ini lebih laku di pasaran domestik.

Dihadapkan pada pilihan itu, Prof. Sriani Sujiprihati tidak mempermasalahkan. Dengan hati lapang, ia menerima keputusan tersebut demi kepentingan yang lebih besar: kesejahteraan petani yang membudidayakan pepayanya. Baginya, yang terpenting adalah inovasi ciptaannya dapat bermanfaat luas, bukan soal pengakuan nama.

Kini, meski Prof. Sriani telah berpulang, warisan ilmiahnya terus “berbicara” setiap hari. Ribuan petani di berbagai daerah menuai hasil dari varietas pepaya yang ia kembangkan. Masyarakat Indonesia menikmati buah berkualitas tinggi tanpa harus bergantung pada impor, sementara petani mendapatkan penghasilan yang lebih baik.

Kisah Prof. Sriani Sujiprihati menjadi cerminan pahit sekaligus membanggakan realitas dunia pertanian dan riset Indonesia. Banyak inovasi anak bangsa yang harus “diberi baju” asing agar diterima pasar, sementara para ilmuwan di belakangnya sering kali bekerja tanpa sorotan dan pengakuan memadai.

Di tengah gencarnya promosi produk lokal saat ini, kisah pepaya Callina yang menjadi California ini seharusnya menjadi pengingat penting: Indonesia memiliki banyak talenta dan inovasi hebat. Tinggal bagaimana kita memberikan apresiasi yang layak dan keberanian untuk mempromosikannya dengan bangga sebagai produk dalam negeri.

Semoga perjuangan dan keikhlasan Prof. Sriani Sujiprihati menjadi inspirasi bagi generasi ilmuwan muda Indonesia untuk terus berkarya, meski kadang tanpa harus mengejar popularitas.