Di tengah banyaknya pemberitaan tentang dugaan keracunan makanan pada program Makan Bergizi Gratis, dua siswa SMPN 1 Turi, Sleman, memilih jalan berbeda. Alih-alih hanya mengeluh atau takut, Pradipta Widhi Nugroho dan Abyan Syahlefi justru mengubah keprihatinan menjadi karya nyata. Mereka merancang alat sederhana yang mampu mendeteksi makanan basi hanya dalam lima detik.
Ide itu muncul dari percakapan sehari-hari di sekolah. Keduanya sering mendengar cerita teman tentang rasa makanan yang “aneh” atau bau yang mencurigakan. Dari situ lahir tekad: bagaimana jika ada alat yang bisa memberikan kepastian cepat sebelum makanan disantap? Bersama guru pembimbing KIR, mereka menghabiskan lebih dari tiga bulan untuk merakit, menguji, dan menyempurnakan alat tersebut.
Hasilnya adalah perangkat yang dilengkapi beberapa sensor. Alat ini mampu membaca kelembapan, kadar alkohol, kualitas udara, suhu, hingga kemungkinan residu pestisida. Cukup masukkan sampel makanan ke dalam wadah, lalu hasil analisis muncul di layar ponsel. Prosesnya cepat, praktis, dan mudah digunakan siapa saja.
Karya mereka kini menembus Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) tingkat nasional. Presentasi di Jakarta menjadi tantangan berikutnya. Bagi Pradipta dan Abyan, pencapaian ini bukan soal juara semata, melainkan kesempatan membuktikan bahwa siswa biasa pun bisa memberi solusi bagi masalah nyata di sekitarnya.
Kisah kedua remaja ini menjadi pengingat penting. Di balik program besar seperti MBG, selalu ada ruang bagi ide-ide kecil yang lahir dari kepedulian. Semoga semangat mereka menular, mendorong lebih banyak anak muda untuk tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga pencipta solusi.