Gianyar, Bali — Di tengah gemerlapnya seni pertunjukan Bali yang terus berkembang, satu nama tetap menjadi simbol keabadian tradisi: Niang Soli, atau yang dikenal juga sebagai Gusti Ayu Soli. Penari legendaris asal Desa Saba, Blahbatuh, Gianyar ini bukan hanya seorang seniman, melainkan juga ikon hidup yang mewujudkan ketangguhan dan vitalitas budaya Bali.
Dikenal luas karena keahliannya membawakan tarian klasik Legong Bapang Saba, Niang Soli telah memukau penonton sejak masih kanak-kanak. Bakatnya yang luar biasa membawanya tampil di hadapan tokoh penting, termasuk Presiden pertama Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pada era 1940-an. Penampilan di depan sang Proklamator itu menjadi salah satu bukti awal betapa gemilangnya karir seni Niang Soli.
Misteri Usia dan Energi yang Tak Lekang Zaman
Yang membuat kisah Niang Soli semakin istimewa adalah usianya yang kontroversial. Dokumen resmi mencatat tanggal lahirnya pada 31 Desember 1935, yang berarti ia kini berusia sekitar 90 tahun. Namun, Niang Soli sendiri beserta masyarakat Desa Saba meyakini bahwa ia telah melampaui usia 100 tahun. Kepercayaan ini bukan tanpa alasan. Energi dan kelincahannya saat menari masih sangat luar biasa. Gerakan tangan, ekspresi wajah, dan ketepatan langkahnya dalam tari Legong Bapang Saba tetap kuat, anggun, dan penuh daya magis — sesuatu yang jarang dimiliki penari seusianya. Banyak peneliti dan pengamat seni yang terkesan melihat vitalitasnya yang seolah tak tergoyahkan oleh waktu.
Moment Viral di Pesta Kesenian Bali 2023
Tari Legong Bapang Saba yang dibawakan Niang Soli bukan sekadar pertunjukan, melainkan juga penyampaian nilai-nilai estetika, spiritualitas, dan filosofi Bali yang mendalam. Melalui gerakannya, ia berhasil menjaga keaslian tradisi sekaligus menginspirasi generasi muda untuk terus melestarikan seni klasik Bali.
Simbol Ketahanan Budaya Bali
Niang Soli bukan hanya penari, tetapi juga penjaga ingatan kolektif sebuah desa dan sebuah pulau. Dedikasinya seumur hidup telah menjadikannya teladan bagi para penari muda di Bali. Ia membuktikan bahwa seni tradisional bukanlah sesuatu yang kaku dan hanya milik masa lalu, melainkan sesuatu yang hidup, bernapas, dan mampu bersinar di setiap era. Di tengah derasnya arus modernisasi, keberadaan Niang Soli menjadi pengingat berharga bahwa akar budaya yang kuat akan selalu mampu bertahan dan bahkan semakin berkilau seiring waktu.