Inspiratif

Ketika Harapan Tak Butuh Gaji: Kisah Iin di Sekolah Alternatif Anak Jalanan

Pagi di Saaja selalu dimulai dengan cara yang sama. Pintu sederhana dibuka, kursi-kursi disusun ulang, dan suara anak-anak perlahan memenuhi ruangan. Di antara...
Devi Sry Atmaja
Devi Sry Atmaja
17 Agustus 2026 · 00:09 WIB · 2 Views
Ketika Harapan Tak Butuh Gaji: Kisah Iin di Sekolah Alternatif Anak Jalanan

Foto: Kumparan/Pradya Tirta


Pagi di Saaja selalu dimulai dengan cara yang sama. Pintu sederhana dibuka, kursi-kursi disusun ulang, dan suara anak-anak perlahan memenuhi ruangan. Di antara mereka berdiri Kristina Iin Dwiyanti—yang akrab dipanggil Iin—dengan senyum yang tak pernah benar-benar pudar, meski ia tahu betul bahwa hari itu, seperti hari-hari sebelumnya, ia datang tanpa jaminan gaji.

Iin bukan datang ke Saaja karena tawaran pekerjaan. Ia datang karena pilihan. Jauh sebelum menjadi kepala sekolah sekaligus pengajar, ia hanyalah seorang relawan yang belajar dari nol. Ia tidak punya latar belakang sebagai guru. Yang ia miliki hanyalah keinginan untuk memahami, lalu membantu. Dari almarhum Farid Faqih, pendiri Saaja, Iin menyerap lebih dari sekadar metode mengajar. Ia menyerap keyakinan bahwa anak jalanan bukan sekadar “anak yang berada di jalan”, melainkan anak yang pantas mendapat ruang untuk tumbuh.

Kepergian Farid mengubah segalanya. Persoalan yang sebelumnya banyak ditangani sang pendiri kini menjadi tanggung jawab bersama. Saaja tidak punya donatur tetap. Tidak ada aliran dana yang bisa diandalkan setiap bulan. Listrik, alat tulis, bahkan lampu yang sempat mati, semuanya harus dipikirkan ulang. Dalam kondisi seperti itu, Iin sering kali harus merogoh kocek sendiri.

Ia tidak pernah mengumbar soal itu. Baginya, kebutuhan sekolah lebih penting daripada kenyamanan pribadi. “Kalau sekolah berhenti, anak-anak yang sudah mulai merasa punya tempat akan kembali kehilangan arah,” ujarnya suatu kali dengan nada tenang.

Di balik kelas yang sederhana itu, Iin menyaksikan sendiri bagaimana anak-anak berubah. Yang dulu penakut mulai berani berbicara. Yang dulu cenderung memberontak mulai bisa duduk tenang. Yang dulu hanya mengenal kerasnya jalanan, kini mengenal huruf, angka, dan yang lebih penting—rasa diterima.

Menjaga Saaja tetap berjalan bukanlah pekerjaan mudah. Tanpa gaji tetap, tanpa jaminan kesejahteraan, Iin tetap memilih hadir. Ia tahu betul bahwa perjuangan semacam ini jarang terlihat di permukaan. Tidak ada sorotan besar, tidak ada apresiasi yang terus-menerus. Yang ada hanyalah kesadaran bahwa selama masih ada anak yang menunggu, maka pintu sekolah itu harus tetap terbuka.

Kisah Iin bukan tentang kepahlawanan yang megah. Ia adalah tentang keteguhan yang diam-diam. Tentang seseorang yang memilih tetap datang, meski tak ada yang menjamin besok. Tentang keyakinan bahwa pendidikan alternatif tetap bisa hidup, selama masih ada orang yang rela memberi waktu, tenaga, dan kadang uang pribadinya.

Di tengah dunia yang semakin cepat dan sering kali abai, Saaja tetap berdiri. Dan di dalamnya, Iin terus mengajar. Bukan karena dibayar, melainkan karena ia percaya: harapan anak-anak jalanan terlalu berharga untuk dibiarkan padam.