SEMARANG – Tahun 2014, sebuah foto sederhana namun penuh makna mendadak menjadi viral di media sosial. Seorang mahasiswi berjilbab, mengenakan toga wisuda, tersenyum bahagia di atas becak yang dikayuh ayahnya. Itulah Raeni, wisudawan terbaik Universitas Negeri Semarang (UNNES) yang berhasil meraih IPK 3,96. Kini, lebih dari satu dekade kemudian, sosok yang sama telah bertransformasi menjadi Assistant Professor of Accounting
Kisah Raeni bukan sekadar perjalanan pendidikan, melainkan bukti nyata bagaimana kerja keras, dukungan keluarga, dan kesempatan beasiswa mampu mengubah nasib sebuah keluarga dari garis kemiskinan menuju prestasi global.
Raeni lahir pada 1993 di Kendal, Jawa Tengah, sebagai putri bungsu pasangan Mugiyono dan Sujamah. Ayahnya, Mugiyono, adalah seorang pengayuh becak yang setiap hari berjuang mencari nafkah. Kadang, hasil jerih payahnya hanya Rp10.000 sehari. Keluarga mereka hidup sangat sederhana; menu sehari-hari sering hanya kecap, kerupuk, tempe, atau telur. Daging menjadi kemewahan yang hanya dinikmati saat Lebaran.
Meski demikian, Raeni tak pernah malu dengan latar belakangnya. “Dulu pernah minder karena orangtua tukang becak. Meskipun begitu, saya tetap bangga karena dengan keterbatasan itu orangtua tetap mampu membiayai kehidupan saat kuliah dan selalu mendukung saya,” ungkapnya suatu saat.
Semangat itu membawanya masuk ke UNNES melalui beasiswa Bidikmisi (kini KIP Kuliah), program pemerintah untuk siswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. Raeni menuntaskan S1 Pendidikan Akuntansi Fakultas Ekonomi UNNES hanya dalam 3,5 tahun dengan prestasi gemilang. Ia kerap meraih IP sempurna 4,00 dan akhirnya dinobatkan sebagai wisudawan terbaik tahun 2014.
Momen wisuda itu abadi dalam ingatan publik: Mugiyono mengayuh becaknya mengantar putri tercinta ke gedung auditorium UNNES. Foto tersebut menyentuh hati banyak orang, membuktikan bahwa kebesaran hati tak tergantung pada kendaraan mewah.
Perjalanan ke Negeri Ratu Elizabeth: Bidikmisi hingga LPDP
Tak berhenti di S1, Raeni langsung mengejar mimpi lebih tinggi. Ia mendapatkan beasiswa LPDP untuk melanjutkan S2 di University of Birmingham, jurusan International Accounting and Finance, dan lulus dengan Distinction
Prosesnya tak mulus. Ia sempat menghadapi penolakan dan kendala administratif, termasuk soal status dosen. Namun, kegigihannya membuahkan hasil. Ia kembali mendapat beasiswa LPDP untuk S3 di universitas yang sama, fokus pada riset keuangan iklim (climate finance) dan mekanisme akuntabilitas perubahan iklim.
Pada 2023, Raeni resmi meraih gelar Doktor (PhD) di bidang Accounting. Kini, ia menjabat sebagai Assistant Professor of Accounting
Kontribusi Riset dan Karier Akademik yang Membanggakan
Riset Raeni berfokus pada pengembangan kerangka akuntabilitas untuk perubahan iklim, khususnya transparansi dan traceability"Mobilising Islamic Funds for Climate Actions: From Transparency to Traceability"
Ia pernah menjadi Postdoctoral Researcher di Stockholm Environment Institute (SEI) di York, Inggris, berkontribusi pada proyek UK PACT yang mendukung dekarbonisasi sektor transportasi Indonesia secara inklusif. Raeni juga terlibat sebagai reviewer ahli untuk laporan Global Environmental Outlook oleh United Nations Environment Programme (UNEP) dan aktif memberikan penghargaan seperti Rob Gray Emerging Scholar Award.
Selain mengajar dan meneliti, Raeni aktif mentoring pemuda dan komunitas marginal di Indonesia, serta terlibat dalam pengembangan toolkit pemetaan digital untuk mobilitas inklusif.
Pesan untuk Generasi Muda: Belajar Tak Kenal Batas
Dalam berbagai kesempatan, Raeni berpesan agar generasi muda tak takut bermimpi besar. “Tetap belajar, sebab belajar bisa dilakukan di mana pun dan kapan pun. Targetkan aktivitas utama: selesaikan tugas, diskusi, berkumpul keluarga, dan aktivitas sosial,” katanya.
Kisah Raeni menjadi pengingat bahwa latar belakang ekonomi bukanlah penghalang. Dengan mental juara, beasiswa sebagai pintu, dan kerja keras sebagai kunci, siapa pun bisa “terbang setinggi mungkin”.
Dr. Raeni