Bandung
Melalui unggahan di Instagram pribadinya pada Rabu (1 Juli 2026), Atalia Praratya Ridwan Kamil secara tegas menyatakan kekecewaannya. Ia mengaku telah berusaha memaknai lagu tersebut secara positif, namun tetap tidak menemukan elemen penghormatan terhadap perempuan.
Atalia juga menyoroti pemilihan diksi yang dinilai kurang sensitif. Beberapa penggalan lirik yang menjadi sorotan antara lain mengandung ungkapan yang dianggap menertawakan “beban biologis” perempuan, seperti siklus menstruasi atau peran reproduksi, dengan cara yang dianggap merendahkan dan stereotipikal.
Menurut Atalia, budaya Sunda yang kaya nilai justru menjunjung tinggi filosofi silih asihsilih asahsilih asuhsilih wawangi
"Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan," tegas Atalia.
Kritik ini mengangkat isu yang lebih luas: masih adanya patriarki halus dalam ruang publik, termasuk karya seni yang dibuat pemimpin daerah. Di tengah perjuangan kesetaraan gender yang terus bergulir — mulai dari penghapusan kekerasan berbasis gender, kesetaraan upah, hingga partisipasi perempuan di politik dan kepemimpinan — narasi semacam ini dinilai dapat memperlemah kemajuan yang sudah dicapai.
Sebagai sosok yang aktif mendukung pemberdayaan perempuan, Atalia menekankan pentingnya pemimpin daerah menjadi teladan dalam membangun narasi yang progresif dan inklusif. Menurutnya, seorang bupati seharusnya menggunakan pengaruhnya untuk mendidik masyarakat, bukan memperkuat stereotip yang sudah lama merugikan perempuan.
Kontroversi ini memicu diskusi hangat di kalangan aktivis gender, budayawan Sunda, dan masyarakat luas. Banyak yang mendukung sikap Atalia sebagai bentuk advokasi yang diperlukan untuk membangun kesadaran kolektif tentang bahasa dan narasi yang sensitif gender.
Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa di era digital saat ini, setiap karya seni yang diciptakan pemimpin publik akan mendapat sorotan ketat. Kepekaan terhadap isu gender bukan lagi pilihan, melainkan keharusan dalam kepemimpinan yang modern dan berkeadilan.